Berubah Membawa Berkah

Sekarang aku bukan anak kecil lagi walau diri sendiripun belum merasa dewasa. Remaja itulah  sebutanku, sedang mengalami dan mencicipi bagaima duduk di bangku kuliah dan menyandang status mahasiswa. ya, mahasiswa.

Hampir tiga bulan aku lewati masa-masa di bangku perkuliahan, tapi sudah banyak yang aku alami, dengan banyak teman baru pula. Di asrama, di kantin, di perpustakaan, dan segala sudut ipb aku temukan hal yang tak pernah aku alami sebelumnya.

Awal pertama belajar, mungkin sama sepeti saat SMA, hanya aku harus lebih giat lagi karena dosen bukan guru yang selalu menjejali muridnya asupan materi. Disini aku belajar pelajaran secara mandiri. Mempelajari pelajaran di waktu malam sebelum keesokan hari dipelajari, maupun setelahnya.

Kebiasaan dulu, rasanya masih saja ada, rasa malas yang selalu aku benci ketika datang menghantui, tapi ketika aku mengingat kembali bagaimana perjuangan orang tua menyekolahkan ku disini, aku terhenyak, biaya yang ia keluarkan bukan seribu dua ribu, dan ku masih beruntung bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari pada mereka di luar sana. Aku ingin berubah dari perangai kekanak-kanakanku.

Melihat ke belakang, awalnya kuliah di ipb mungkin keputusan setengah hati. Dalam hening tafakurku, kutumpahkan curahan isi hati ini. ‘keluhku… jenuhku… diriku rapuh… hatiku luluh… wudhuku membasuh… tahajud.. ku sujud bersimpuh… Ya Allah, ku hadapkan wajah untuk Kau sentuh…’. Bismillah mungkin disinlah jalanku.

Aku bersama teman usmi lainnya merasakan belajar lebih dulu di saat teman sebaya lainnya, mungkin masih menikmati liburannya. Aku belajar giat dan tibalah saat ujian, aku pun mengerjakan sesuai dengan kemampuan dari apa yang telah banyak aku dapat dari dosen, kaka kelas, maupun teman seperjuangan.

Dua minggu sebelum itu aku diberitahukan oleh temanku, ternyata masih ada jatah untuk penerima beaisswa. Saat itu juga aku berangkat pulang, menyiapkan berkas, dan setelah semuanya siap keesokan paginya aku berangkat.

Berkas-berkas aku sudah kumpulkan ke direktorat kemahasiswaan, tinggal menunggu pengumuman hasil.

Selang dua minggu dua pengumuman yang paling dinanti tiba, yang membuat perasaan tak menentu. Pengumuman ujian matrikulasiku dan penerima beasiswa itu. Setelah aku ketahui alhamduliillah Allah mengabulkan doaku. Nilai ku mencapai nilai mutu yang memuaskan, dan aku mendapatkan beasiswa itu. Segera aku beritahukan kabar gembira ini pada ibuku. Sebagai anak aku merasa senang bisa memberitahukan kabar bahagia dan bisa meringakan bebannya.

Allahlah sang maha pengabul harapan dan sang maha pendengar doa, dibalik kerja keras, usaha dan doa aku bisa menggapainya. Man jadda wajada. Perubahan yang lebih baik itu perlu dan yang paling penting adalah tidak sekedar bermimpi tapi juga mengaktualisasikannya. Pelajaran yang bisa aku maknai bahwa tidak ada sesuatupun yang sulit selama masih ada kemauan.



Rumus Sukses

Mira Aisyah Romliyah_G54100029_Laskar19

Pengalaman hidupnya yang membuat aku terinspirasi dan termotivasi. Ia dan seorang adik kembarnya . Angga dan Anggi, terpaksa tak merasakan nikmatnya kasih sayang seorang ayah sedari kecil, kedua orang tuanya harus cerai karena hubungan yang sudah tak bisa di pertahankan lagi.

Seorang ibu yang perkasa, mengasuh, memberi kasih sayang kedua anak kembarnya, dan membiayainya pula.

Pertama memasuki bangku SD, mereka sangat ceria dan bersemangat.

Seiring dengan ketekunan dan kecerdasan mereka. Mereka selalu menyandang gelar juara. Kalau tidak Angga yang ranking 1, ya Anggi. Begitu seterusnya hingga mereka bisa mempertahankan di bangku SMP.

Sejak kecil Angga ingin menjadi seorang yang ahli di bidang teknik dan mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, Anggi pun begitu ia sangat terobsesi menjadi penerus pa habibie.

Jalan hidup tak selamanya mulus, ketika akan masuk SMA, ibunya keberatan dengan biaya, ibunya sempat tak yakin menyekolahkan mereka berdua. Tapi dengan keyakinan dan dukungan dari semua pihak akhirnya mereka bisa sekolah.

Melihat keadaan orang tua yang seperti itu, tentu saja mereka tidak berleha-leha dalam belajar, yakin, dan kreatif itulah sifat mereka. Ketika kesedihan melanda, mereka tak melampiaskan ke hal yang kebanyakan usia sebayanya lakukan, mereka anti tawuran apalagi meroko ataupun narkoba, yang patut diteladani bahwa mereka melampiaskan kesedihan dan kekecewaannya lewat belajar, ataupun sekedar memperbaiki peralatan elektroniknya yang rusak. “ya untuk menyeimbangkan otaknya, kiri dan kanan” kala mereka ditanya.

Hingga suatu hari akhirnya ia bisa mengikuti olimpiade hingga tingkat Provinsi yah, walaupun hanya sampai disitu setidaknya hati orang tua begiu bahagia melihat kedua anaknya bisa berprestasi.

Jalan untuk menuju kesuksesan selalu ada tapi kadang dengan cara yang tak mudah ketika mereka akan masuk perkuliahan, ada tawaran beasiswa hingga ia sarjana, mereka pun mengikuti segala prasyarat dan ujian-ujian yang harus dilakukan.

Tes pertama Angga orang yang pertama kali beruntung, ia mengikuti karantina untuk megikuti tes selanjutnya. Berjuang, belajar dan akhirnya bisa meraihnya Teknik mesin ITB, hal yang selama ini ia idamkan.

Sementara Anggi, Allah menginginkan ia berusaha lebih keras lagi , 3 kali mengikuti tes, dua kali ujian mandiri ia gagal, mengikuti tes snmptn pun ia masih saja gagal.

Mungkin takdir mereka harus tidak satu perguruan tinggi.

Dan akhirnya Anggi mengikuti sebuah tes mandiri. Dengan usaha, kerja keras dan doa. Ia berhasil mendapatkan teknik elektro POLBAN.

Kini, ayahnya yang telah lama menghilang, entah kenapa menemui keluarga mereka. Menceritakan kepada tetangga-tetangga, bahwa sebagai ayahnya ia bangga. Aneh memang, setelah mereka berhasil menggapai cita baru ayahnya muncul ke permukaan.

Tapi mereka tetap, berbaik sangka. Dengan segala pertimbangan mereka dan juga keluarga, mereka kembali menerima ayahnya,  sebagai pendamping hidup ibunya kembali.

Banyak hal dari jalan hidupnya yang patut diteladani. Keputusasaan bukanlah solusi jika ada permasalahan. Kerendahan hati adalah kunci utama mereka. Satu hal rumus sukses dari mereka yang tak terlawankan yaitu kombinasi patuh kepada ibu, hormat kepada guru, usaha pantang menyerah diiringi doa.